Kamis, 23 April 2015

Apakahh anda pernah jenuhhhh???? baca ini !!!!!



Lamunan Kejenuhan
(Farida Nuraini)

       Begini  lagi begini lagi, apakah tak ada yang spesial dalam hidupku? Hanya ini dan ini saja yang kulakukun dalam hidupku. Apakah aku memang hanya memiliki satu warna saja, tidak seperti manusia-manusia lain yang mempunyai beberapa warna dalam hidupnya? Iya, itulah yang kurasakan saat ini, jenuh. Iya ‘jenuh’ adalah kata yang kucari selama ini untuk mewakili perasaanku.
“Hei, Fri..” sebuah tangan menepuk punggungku dari belakang.
“Hei, ada apa Sis? “Aku menjawab dengan malas dan sedikit mengeryipkan mata, serta agak kesal dengan Siska yang telah berhasil membuyarkan lamunannya, padahal dalam lamunanku, aku berhasil menemukan kata yang tepat untuk mewakili hidupku, yaitu ‘jenuh’.
“ayoo kekantin,...” Siska menjawab penuh semangat.
“aku tahu pasti kamu akan memesan soto dan aku bakso, ditemani es teh yang sama.”
“wahh, daebak daebak daebak.”
“he’eh”. Silahkan kamu memujiku daebak-daebak, aku tau karena aku telah cukup mengenal hal ini berulang-ulang, sampai-sampai aku sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kataku dalam hati.
-----
       Apa yang harus aku lakukan agar aku dapat hidup berwarna layaknya manusia-manusia lain. Aku kembali melanjutkan lamunannya yang tertunda tadi.
Hei, jangan lari, kesini. Dasar bocah-bocah nakal, apa kurang besar papan peraturan disana, atau kalian sudah cukup bosan membaca peraturan sekolah ini. Heii... kesini, jangan mempermainkan satpam... bla.. bla.. bla...”
       Suara Pak Dawam membuatku melihat segerombolan anak kurang kerjaan melonjat pagar untuk melarikan diri dari beliau. Tiba-tiba terbersit dalam otakku untuk melakukan hal yang sama, agar ada warna dalam hidupku. Tapi aku terlalu baik untuk melakukan hal itu. Selain itu aku bukanlah atlit, aku juga tidak ikut organisasi pendekar dan aku memakai rok, bagaimana mungkin aku melakukannya. Huff..
       Tiba- tiba terdengar suara..
”Sayang, kamu sudah makan apa belum” seorang murid laki-laki berkata pada pacarnya
“Blum, aku malas makan.” murid perempuan itupun menjawab.
“Jangan begitu dong, aku sayang kamu, aku takut kalo kamu sampai sakit, bla bla bla”
       Kapan aku begitu ya, kembali aku melamunkan hal yang sama, bagaimana kalau aku juga mesra dengan pacarku. Kita bisa jalan-jalan, pegangan tangan, berpelukan. Mungkin itu juga ide yang baik untuk mewarnai hidupku ini. Aku bersama pacar. Wahh asyik, tidak terus menerus bersama Siska. Kemana-mana bersama Siska, apa jangan-jangan dia lesby, sampai-sampai dia terus menguntitku. Oke aku akan melakukan hal itu, ide yang cemerlang Friska. Aku harus bergegas melakukannya. Aku berdiri penuh semangat. Tiba-tiba kakiku berhenti ditempat, aku baru sadar ternyata saat ini aku tidak punya pacar. Aduh, aku lupa. Kalau aku sudah putus 1 tahun yang lalu. Tanpa sadar aku duduk kembali. Hufft..
       Aku mengamati sekitarku, aku melihat segerombolan anak bermain basket bergantian melemparkan bola basket ke keranjang basket, dan goal. Mungkin sangat menyenangkan bila aku dapat jadi pembasket. Dapat eksis kesana kemari, dipuji banyak orang, dan pastinya banyak adik-adik kelas yang nge-fans, haahaa. Pikirku dalam hati, tapi apakah mungkin, meloncat pagar saja tak mampu apalagi meloncat memasukan bola ke kranjang dan lagi penuh rintangan untuk memasukkannya, yaitu para lawan yang siap menerkamku. Hufft..
       Apalagi yang harus aku lakukan untuk mewarnai hidupku? Apa aku harus seperti Yati? Yati adalah anak ibu kantin yang setiap hari harus kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Dia harus membagi waktu antara jam masuk kelas dan membantu ibunya. Terkadang dia sampai ketiduran dikelas dan sering tidak mengerjakan tugas lantaran terlalu lelah. Apakah dengan bekerja paruh waktu aku dapat mewarnai hidupku yang menjenuhkan ini? Tidak-tidak hal ini bukan ide yang bagus untuk mewarnai hidup. Hufftt..
       Aku kembali mengamati sekitar untuk menentukan hal apa yang akan aku lakukan.
“Hei Fris, lagi ngapain kok melamun?” suara Ani cukup membuatku tersentak.
“Lagi duduk-duduk aja An, kamu kenapa kok terlihat kebingungan.”
“Iya nih Fris, biasalah urusan OSIS, banyak banget proker yang belum dilaksanakan, cukup bagi para anggotaku kebingungan. Yaudah kalau begitu aku duluan ya, aku mau minta tandatangan Kepsek dulu. Bye bye.” Ani berkata sambil berlalu begitu saja.
       Wahh.. enak kali ya kalau aku bisa jadi OSIS, apa aku daftar jadi OSIS aja kali ya, pasti bakal menyenangkan, banyak kenalan, guru-guru pada kenal, dan pastinya eksis, hehe. Wahh menyenangkan.
“Heii, Friska..” lambaian Siska bagaikan pohon bakau di pantai-pantai yang tertiup angin sepoi-sepoi, yang membuatku ingin tidur saja daripada harus menemuinya, aku jenuh dengannya. Bukan bermaksud jahat, tapi itu yang kurasakan ‘jenuh’. Kenapa harus dia lagi? Apakah hanya dia temanku satu-satunya didunia ini?
” Hei” senyuman kecut bersimpul di bibirku, dan kembali kebentuk semula yaitu manyun.
“Kamu kenapa disini Fris,? Ayo kita ke..”
“Perpus? Aku udah tahu apa yang akan kamu katakan, aku benar-benar muak dengan apa yang kita lakukan setiap harinya, aku jenuh Sis, apa yang harus aku lakukan. Apa kamu tidak merasa jenuh dengan semua ini. Kita hanya mendengarkan guru berbicara, ke kantin beli soto dan bakso dan yang selalu kita lakukan adalah ke perpus. Oh man, aku ingin mempunyai cerita berwarna seperti halnya manusia lain, tidak hanya memiliki satu warna dalam hidupku. Apa yang harus aku lakukan?” kata demi kata begitu saja terlontar dari mulutku. Walupun ada sedikit penyesalan setelah aku mengucapkannya.
“Iya, aku juga merasakan kejenuhan Fris, tapi bukan hanya kita saja yang merasa jenuh. Anak yang nakal, pacaran, pembasket, kerja paruh waktu, aktif organisasi, aku yakin semua orang pernah merasakan kejenuhan Fris.”
       Daebak, dia tau yang aku pikirkan sejak tadi.
        “Aku Tak tau kenapa ada rasa bosan, jenuh atau apalah, mungkin manusia memang sudah dianugrahi perasaan itu sejak ada Nabi Adam.” Siska melanjutkan ceramahnya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanyaku polos.
“Yaa, terserah kamu mau melakukan apa, yang penting jangan pesimis dulu bila ingin mencoba hal baru, kalau kamu ingin jadi pembasket jangan hiraukan kamu tidak bisa loncat atau kamu pendek, yang penting kamu manu berusaha terlebih dahulu. Mau jadi anak aktif organisasi lakukan, daftar dan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan tugas, atau kamu mau kerja paruh waktu, silahkan yang penting kamu punya komitmen untuk melakukannya. Dapat membagi waktu antara kerja dan sekolah. Yang terpenting bukan bisa atau tidak tetapi mau atau tidak untuk memcoba.” Siska mengeluarkan napas panjang. ” Lakukan apa yang ingin kamu lakukan.” Siska berlalu begitu saja tanpa menoleh kebelakang.
       Oke. Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Agar hidupku seperti pelangi yang mempunyai banyak warna dan tidak hanya terpaku pada satu warna. Friska fighting! Aku mulai melangkah pergi dari lamunanku. Ayo menghadapi kenyataan, jangan hanya melamun dan berkhayal tapi lakukan yang ingin kamu lakukan Friska.






BUAT cerpen LAGIIIII yuuuuuukkkkkkk........

IKUTIII LOMBAAA INI....

TIDAK USAH MEMIKIRKAN MENANG ATAU KALAH. DAPAT HADIAH ATAU TIDAAAAKKK... YANG PENTING ITUUU MAUUU MENCOBAAAA....


Keluargakuuuuuu.... mumumumumu.....


Akuuuuu sayanggg kaliaaaannnn....









Aku mempunyai keluargaaa disiniiii.....
aku tidak akan lupa sahabat-sahabati...
Tidak akan, LOVE YOU FOREVER....


TUGAS... ohh... TUGAS...



UNDANG-UNDANG SISDIKNAS DAN
PENGEMBANGAN KBK



A.    PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diresmikan pada tanggal 8 Juli 2003, membawa dampak penyelenggaraan pendidikan, terutama kurikulum lembaga pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Maka dari itu, kurikulum sekolah harus dirombak secara total. Perombakan itu bukan pada aspek struktur kurikulum yang berupa jenis mata pelajaran, tetapi lebih pada pendekatan, prinsip, dan aplikasinya di setiap lembaga pendidikan.
Undang-Undang  ini dilandasi oleh semangat otonomi daerah yang sangan kental, demokratisasi pendidikan, desentralisasi atas penyelenggaraan dan peningkatan m manajemen, transfaransi, dan partisipasi masyarakat untuk turut bertanggungjawab atas penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. Butir-butir penting yang terkait dengan pengembangan kurikulum pada RUU Sisdiknas,  adalah:
1.      Kurnas (kurikulum nasional) dihapus, yang ada kurikulum masyarakat dan sekolah,
2.      Kurikulum disususn oleh masyarakat dan sekolah di bawah tanggung jawab Bupati/ Walikota dan Camat,
3.      Masyarakat wajib belajar,
4.      PLS (Pendidikan Luar Sekolah) sebagai wujudan jenis pendidikan non-formal dan pendidikan informal sejajar dengan pendidikan sekolah,
5.      PBM (proses belajar-mengajar) mendudukan guru dan murid sejajar,
6.      Akan dibentuk lembaga khusus yang mengeluarkan status hukum bagi lembaga pendidikan.

B.     TANGGUNGJAWAB BUPATI/WALIKOTA
Penyusunan kurikulum oleh masyarakat dan sekolah di bawah di bawah tanggungjawab Bupati/Walikota dan Camat membawa dampak tuntutan terhadap pimpinan daerah, sebagai administrator/manajer. Mereka harus dapat memberdayakan dan mendayagunakan SDM (sumber daya manusia) untuk penyusunan kurikulum. Penyusunan kurikulum tidak langsung diserahkan sepenuhnya kepada Bupati/Walikota dan Camat, tetapi harus mengikutu rambu-rambu tentang perencanaan kurikulum dan harapan ideal pendidikan harus disusun dulu secara sistematis, jelas, dan rinci oleh pemerintah pusat.

C.    LEMBAGA KENDALI MUTU
Penyusunan lembaga khusus yang memberikan status hukum bagi lembaga pendidikan harus diperluas fungsinya sebagai badan akreditasi lembaga pendidikan yang bertugas menjaga/mengawal baku mutu pendidikan. Sesuai dengan jumlah sekolah yang ada dan load kerja yang tersedia, idealnya lembaga baku mutu ini dibentuk di tingkat propinsi untuk SLTA, di kabupaten/kota untuk SLTP, dan di tingkat kecamatan untuk akreditasi SD.

D.    PENYUSUNAN KURIKULUM TERPADU
Penyejajaran pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah perlu adanya sistem sistem pengorganisasian dan sistem manajemen terpada (integrated management system). Kurikulum pendidikan formal diharapkan mewadahi dan mengantisipasi pendidikan mandiri dan pendidikan informal untuk bisa equivalen dengan pendidikan formal.
Setiap pengendalian mutu, baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota perlu dibentuk asesor khusus yang bertugas membuat tata aturan main dan melaksanakan equivalensi pendidikan formal, nonformal, dan informal, selain itu juga bertugas malaksanakan akreditasi lembaga pendidikan.

E.     KEMBALI KE TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan pendidikan nasional minimal mengandung 10 aspek yang harus dikembangkan pada anak didik. Aspek-aspek itu antara lain ketaqwaan Tuhan YME, budi pekerti luhur, pengetahuan, keterampilan,  kesehatan jasmani, kesehatan rohani, kepribadian, kemandirian, cinta tanah air dan tanggungjawab terhadap masyarakat dan bangsa. Tugas utama Pemerintah Propinsi, Kota/Kabupaten, dan Kecamatan adalah menterjemahkan nuansa tujuan pendidikan nasional yang tertuang di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 kedalam pelaksanaan kurikulum pada masing-masing bidang studi. Penyususnan dan pengawalan pelaksanaan kurikulum harus melibatkan kalangan perguruan tinggi, para praktisi termasuk kalangan Depdiknas, para guru, kepala sekolah, pengawas, LSM Pendidikan, pemakai lulusan dan tokoh masyarakat.
F.      PENINJAUAN KEBIJAKAN UJIAN AKHIR NASIONAL
Pemerintah pusat tidak usah ikut campur dalam mengevaluasi hasil belajar siswa dengan UAN (Ujian Akhir Nasional), biarkan evaluasi hasil belajar dilaksanakan oleh guru yang selama ini menjalankan proses pembelajaran. Karena apabila pemerintah tetap mengadakan evaluasi hasil belajar siswa, guru hanya akan berfungsi sebagai pengajar yang mengejar target materi, bukan berperan sebagai pendidik.Tugas pemerintah dan masyarakat agar mutu tetap terjaga adalah meningkatkan keprofesionalan guru dalam menjalankan tugas.
Peran kendali mutu pendidikan oleh pemerintah dilakukan terhadap aspek kebijakan dan arah pendidikan nasional, proses manajemen lembaga pendidikan, bantuan peningkatan SDM, dan subsidi di bidang pendanaan dan sarana/prasarana. Dengan rancangan kurikulum berbasis kompetensi yang dijadikan kebijkan pemerintah Indonesia, penilaian dilaksanakan untuk mengukur keterampilan melalui tes performasi, hasil proses belajar melalui portofolio, proyek kegiatan siswa untuk mengukur analisis dan kreativitas, dan pengetahuan siswa melalui paper and pencil test.

G.    KETERAMPILAN HIDUP DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI                                                                                                Kurikulum berbasis kompetensi (KBK)  diterapkan oleh pemerintah Indonesia, karena dilandasi oleh pertimbangan bahwa pendekatan ini dianggap dianggap dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam KBK yang dipersiapkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas, salah satu prinsip yang dikembangkan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Beberapa keterampilan hidup yang harus dikuasai oleh peserta didik mencakup (versi Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003)
·         Kerumahtanggaan
·         Pemecahan masalah
·         Berpikir kritis
·         Komunikasi
·         Kesadaran diri
·         Menghindari stres
·         Membuat keputusan
·         Berpikir kreatif
·         Hubungan interpersonal
·         Pemahaman bentuk pekerjaan
·         Kemampuan vokasional dan sikap positif terhadap kerja.
Untuk menyalurkan kreativitas berbagai pihak dalam pelaksanaan KBK, sejak sekarang kita harus berpikir untuk memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pelaku pendidikan dalam mengembangkan kreativitasnya.
1.      Keterampilan Kerumahtanggaan
Keterampilan kerumahtanggaan bagi anak Tk akan berbeda dengan anak SD, SLTP, dan SLTA. Di SD/MI keterampilan kerumahtanggaan yang mesti dibekalkan kepada peserta didik perlu dibagi menjadi dua, yaitu keterampilan kerumahtanggaan untuk kelas bawah dan keterampilan kerumahtanggaan kelas atas. Untuk peserta didik tingkat SLTP/MTs, keterampilan kerumahtanggaan mulai meningkat sebagai kelanjutan keterampilan yang telah didasari di SD/MI. Untuk peserta didik seusia SMA/MA keterampilan yang dibekalkan mulai mengarah ke tanggungjawab pribadi dalam mengerjakan pekerjaanrumahtangga. Tugas Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten yang dalam hal ini dikoordinasikan penyusunan jenis keterampilan minimal kerumahtanggaan ini bersama.


2.      Keterampilan pemecahan masalah
Keterampilan ini secara bertingkat sesuai dengan jenjang pendidikannya yang diberikan kepada mereka pada setiap pembelajaran bidang studi. Keterampilan inilah yang membekali siswa untuk bersifat tegar, tangguh, tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap masalah kehidupan. Secara umum, pemecahan masalah dilakukan melalui langkah-langkah:
a.       Menyadari adanya masalah
b.      Identifikasi masalah
c.       Merumuskan masalah yang dihadapi
d.      Mengidentifikasikan alternatif pemecahan masalah
e.       Mengadakan evaluasi terhadap setiap alternatif yang telah diidentifikasikan
f.       Menetapkan alternatif pemecahan yang terbaik
g.      Implementasi alternatif pemecahan masalah
h.      Follow-up penerapan alternatif
Keterampilan pemecahan masalah ini jika dibiasakan di setiap dibidang studi akan memberikan keterampilan hidup yang luar biasa manfaatnya dalam menghadapi kehidupan kelak dimasyarakat.
3.      Keterampilan berpikir kritis
Untuk membangun keterampilan ini, perlu adanya dorongan rasa keingin-tahuan (curousity), tidak mudah percaya terhadap pengetahuan yang diperoleh, memberi tanggapan terhadap materi pembelajaran, dan menganalisis fenomena yang ada dilapangan.

4.      Keterampilan berkomunikasi
Setiap peserta didik diharapkan dapat terlatih berkomunikasi dalam matapelajaran sehari-hari. Peserta didik dilatih bagaimana menghargai orang lain, mengormati pendapat, jujur dalam mengemukakan pendapat.


5.      Keterampilan kesadaran diri
Penyadaran diri ini menjadi dasar bagi anak didik untuk memilih kegiatan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan di sekolah.

6.      Keterampilan menghindari stres
Memberi kesadaran pada anak bahwa masalah hidup itu sesuatu yang wajar, sehingga muncul keyakinan diri untuk mengatasi masalah dengan penuh suka cita.

7.      Keterampilan membuat keputusan
Dalam pembelajaran sehari-hari, anak didik dilatih untuk membuat keputusan baik secara individual maupun kelompok, dengan cara memberikan tugas-tugas sederhana dengan tingkat perkembangan anak.

8.      Keterampilan berpikir kreatif
Apa yang dipelajari hendaknya dikaitkan dengan kehidupan anak, sehingga anak mampu mengitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dengan begitu anak dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

9.      Keterampilan hubungan interpersonal
Kerja kelompok dapat membantu anak untuk melatih keterampilan hubungan interpersonal mereka.

10.  Pemahaman terhadap bentuk pekerjaan
Permainan simulasi anak bisa dilatih untuk melaksanakan pekerjaan tertentu dengan alat sederhana yang dimili oleh sekolah, atau menggunakan alat-alat latihan yang ada di masyarakat.

11.  Kemampuan vokasional dan sikap positif terhadap kerja
Jenis pekerjaan vokasional yang dapat dilatih sesuai dengan kemampuan sekolah untuk menyelenggarakannya. Anak didik juga harus mulai diberi kesadaran untuk menghargai setiap jenis pekerjaan apapun yabg ada di masyarakat.

H.    PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KBK
Prinsip-prinsip pengembangan KBK mencakup:
1.      Memasukan keimanan, nilai, budi pekerti ke dalam kurikulum
2.      Perhatian keseimbangan logika, etika, estetika, dan kinestika
3.      Memberikan kesempatan yang sama kepada peserta didik
4.      Kurikulum untuk memperkuat identitas nasional
5.      Kurikulum dilaksanakan untuk mebghadapi abad pengetahuan
6.      Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi
7.      Memberikan keterampilan hidup
8.      Memasukan unsur-unsur penting ke bidang kurikuler
9.      Kurikulum mewadahi alternatif adanya pendidikan nonformal, BJJ, dan bersifat lentur
10.  Kurikulum berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan
11.  Kurikulum mewadahi aspek multikultural dan multibahasa
12.  Kurikulum dilaksanakan secara kontinyu komprehensif
13.  Kurikulum dilandasi oleh pendidikan sepanjang hayat.