Lamunan
Kejenuhan
(Farida
Nuraini)
Begini lagi begini lagi, apakah tak ada yang spesial
dalam hidupku? Hanya ini dan ini saja yang kulakukun dalam hidupku. Apakah aku
memang hanya memiliki satu warna saja, tidak seperti manusia-manusia lain yang
mempunyai beberapa warna dalam hidupnya? Iya, itulah yang kurasakan saat ini,
jenuh. Iya ‘jenuh’ adalah kata yang kucari selama ini untuk mewakili perasaanku.
“Hei, Fri..” sebuah tangan menepuk
punggungku dari belakang.
“Hei, ada apa Sis? “Aku menjawab dengan
malas dan sedikit mengeryipkan mata, serta agak kesal dengan Siska yang telah berhasil
membuyarkan lamunannya, padahal dalam lamunanku, aku berhasil menemukan kata yang
tepat untuk mewakili hidupku, yaitu ‘jenuh’.
“ayoo kekantin,...” Siska menjawab penuh
semangat.
“aku tahu pasti kamu akan memesan soto
dan aku bakso, ditemani es teh yang sama.”
“wahh, daebak daebak daebak.”
“he’eh”. Silahkan kamu memujiku daebak-daebak, aku tau karena aku telah cukup
mengenal hal ini berulang-ulang, sampai-sampai aku sudah tahu apa yang akan
terjadi setelah ini. Kataku dalam hati.
-----
Apa
yang harus aku lakukan agar aku dapat hidup berwarna layaknya manusia-manusia
lain. Aku kembali melanjutkan lamunannya yang tertunda tadi.
“Hei, jangan
lari, kesini. Dasar bocah-bocah nakal, apa kurang besar papan peraturan disana,
atau kalian sudah cukup bosan membaca peraturan sekolah ini. Heii... kesini,
jangan mempermainkan satpam... bla.. bla.. bla...”
Suara
Pak Dawam membuatku melihat segerombolan anak kurang kerjaan melonjat pagar
untuk melarikan diri dari beliau. Tiba-tiba terbersit dalam otakku untuk
melakukan hal yang sama, agar ada warna dalam hidupku. Tapi aku terlalu baik
untuk melakukan hal itu. Selain itu aku bukanlah atlit, aku juga tidak ikut
organisasi pendekar dan aku memakai rok, bagaimana mungkin aku melakukannya.
Huff..
Tiba-
tiba terdengar suara..
”Sayang, kamu sudah makan apa belum”
seorang murid laki-laki berkata pada pacarnya
“Blum, aku malas makan.” murid perempuan
itupun menjawab.
“Jangan begitu dong, aku sayang kamu,
aku takut kalo kamu sampai sakit, bla bla bla”
Kapan
aku begitu ya, kembali aku melamunkan hal yang sama, bagaimana kalau aku juga
mesra dengan pacarku. Kita bisa jalan-jalan, pegangan tangan, berpelukan.
Mungkin itu juga ide yang baik untuk mewarnai hidupku ini. Aku bersama pacar.
Wahh asyik, tidak terus menerus bersama Siska. Kemana-mana bersama Siska, apa
jangan-jangan dia lesby,
sampai-sampai dia terus menguntitku. Oke aku akan melakukan hal itu, ide yang
cemerlang Friska. Aku harus bergegas melakukannya. Aku berdiri penuh semangat.
Tiba-tiba kakiku berhenti ditempat, aku baru sadar ternyata saat ini aku tidak
punya pacar. Aduh, aku lupa. Kalau aku sudah putus 1 tahun yang lalu. Tanpa
sadar aku duduk kembali. Hufft..
Aku
mengamati sekitarku, aku melihat segerombolan anak bermain basket bergantian
melemparkan bola basket ke keranjang basket, dan goal. Mungkin sangat
menyenangkan bila aku dapat jadi pembasket. Dapat eksis kesana kemari, dipuji
banyak orang, dan pastinya banyak adik-adik kelas yang nge-fans, haahaa.
Pikirku dalam hati, tapi apakah mungkin, meloncat pagar saja tak mampu apalagi
meloncat memasukan bola ke kranjang dan lagi penuh rintangan untuk
memasukkannya, yaitu para lawan yang siap menerkamku. Hufft..
Apalagi
yang harus aku lakukan untuk mewarnai hidupku? Apa aku harus seperti Yati? Yati
adalah anak ibu kantin yang setiap hari harus kerja paruh waktu untuk memenuhi
kebutuhan sekolahnya. Dia harus membagi waktu antara jam masuk kelas dan
membantu ibunya. Terkadang dia sampai ketiduran dikelas dan sering tidak
mengerjakan tugas lantaran terlalu lelah. Apakah dengan bekerja paruh waktu aku
dapat mewarnai hidupku yang menjenuhkan ini? Tidak-tidak hal ini bukan ide yang
bagus untuk mewarnai hidup. Hufftt..
Aku
kembali mengamati sekitar untuk menentukan hal apa yang akan aku lakukan.
“Hei Fris, lagi ngapain kok melamun?”
suara Ani cukup membuatku tersentak.
“Lagi duduk-duduk aja An, kamu kenapa
kok terlihat kebingungan.”
“Iya nih Fris, biasalah urusan OSIS,
banyak banget proker yang belum dilaksanakan, cukup bagi para anggotaku
kebingungan. Yaudah kalau begitu aku duluan ya, aku mau minta tandatangan
Kepsek dulu. Bye bye.” Ani berkata sambil berlalu begitu saja.
Wahh..
enak kali ya kalau aku bisa jadi OSIS, apa aku daftar jadi OSIS aja kali ya,
pasti bakal menyenangkan, banyak kenalan, guru-guru pada kenal, dan pastinya
eksis, hehe. Wahh menyenangkan.
“Heii, Friska..” lambaian Siska bagaikan
pohon bakau di pantai-pantai yang tertiup angin sepoi-sepoi, yang membuatku
ingin tidur saja daripada harus menemuinya, aku jenuh dengannya. Bukan
bermaksud jahat, tapi itu yang kurasakan ‘jenuh’. Kenapa harus dia lagi? Apakah
hanya dia temanku satu-satunya didunia ini?
” Hei” senyuman kecut bersimpul di
bibirku, dan kembali kebentuk semula yaitu manyun.
“Kamu kenapa disini Fris,? Ayo kita
ke..”
“Perpus? Aku udah tahu apa yang akan
kamu katakan, aku benar-benar muak dengan apa yang kita lakukan setiap harinya,
aku jenuh Sis, apa yang harus aku lakukan. Apa kamu tidak merasa jenuh dengan
semua ini. Kita hanya mendengarkan guru berbicara, ke kantin beli soto dan
bakso dan yang selalu kita lakukan adalah ke perpus. Oh man, aku ingin mempunyai
cerita berwarna seperti halnya manusia lain, tidak hanya memiliki satu warna
dalam hidupku. Apa yang harus aku lakukan?” kata demi kata begitu saja terlontar
dari mulutku. Walupun ada sedikit penyesalan setelah aku mengucapkannya.
“Iya, aku juga merasakan kejenuhan Fris,
tapi bukan hanya kita saja yang merasa jenuh. Anak yang nakal, pacaran,
pembasket, kerja paruh waktu, aktif organisasi, aku yakin semua orang pernah
merasakan kejenuhan Fris.”
Daebak,
dia tau yang aku pikirkan sejak tadi.
“Aku Tak tau kenapa ada rasa bosan, jenuh atau
apalah, mungkin manusia memang sudah dianugrahi perasaan itu sejak ada Nabi
Adam.” Siska melanjutkan ceramahnya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
tanyaku polos.
“Yaa, terserah kamu mau melakukan apa,
yang penting jangan pesimis dulu bila ingin mencoba hal baru, kalau kamu ingin
jadi pembasket jangan hiraukan kamu tidak bisa loncat atau kamu pendek, yang
penting kamu manu berusaha terlebih dahulu. Mau jadi anak aktif organisasi
lakukan, daftar dan bersungguh-sungguhlah dalam melakukan tugas, atau kamu mau
kerja paruh waktu, silahkan yang penting kamu punya komitmen untuk
melakukannya. Dapat membagi waktu antara kerja dan sekolah. Yang terpenting
bukan bisa atau tidak tetapi mau atau tidak untuk memcoba.” Siska mengeluarkan
napas panjang. ” Lakukan apa yang ingin kamu lakukan.” Siska berlalu begitu
saja tanpa menoleh kebelakang.
Oke.
Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Agar hidupku seperti pelangi
yang mempunyai banyak warna dan tidak hanya terpaku pada satu warna. Friska
fighting! Aku mulai melangkah pergi dari lamunanku. Ayo menghadapi kenyataan,
jangan hanya melamun dan berkhayal tapi lakukan yang ingin kamu lakukan Friska.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar