Jari Manis Calon Pengantin
(Farida Nuraini)
LAGI, 2 mayat wanita ditemukan tanpa
adanya jari manis tangan kanannya. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya 2 mayat
wanita ini ditemukan meninggal H-1 hari pernikahannya. Sebelumnya 5 gadis yang
ditemukan dalam keadaan yang sama. Hal ini masih menjadi tanda tanya besar
pihak kepolisian untuk mengungkap siapa dalang dari 7 kematian yang misterius
ini. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan, ditempat kejadian semua tersusun rapi,
tidak berantakan dan tidak pula ada bekas-bekas yang dapat dijadikan sebuah
petunjuk untuk mengungkap kasus ini. Hal ini semakin menyulitkan kepolisisan
untuk menggungkapnya.
Matamanews.com. Kurobek-robek koran yang baru kau baca.
“Kenapa di
hari yang kutunggu-tunggu bahkan ditunggu oleh setiap orang, harus ada kejadian
semacam ini. Apa pelaku ini tidak ingin melihat orang lain bahagia? Padahal
sudah H-5.” Gerutuku dalam hati.
“Sel,
gimana jadi menikah? Hahaha, udah deh gak usah menikah. Mungkin ini semua sudah
jadi takdirmu, kamu bakalan jadi perawan tua. Hahaha. Sekali dapat jodoh ada
kejadian-kejadian mengerikan.” Intan berlalu begitu saja setelah meledekku
habis-habisan.
Iya,
memang aku perawan tua. Umurku 31 tahun sudah cukup tua bukan untuk ukuran
seorang wanita yang belum menikah. Karier yang menjadikan aku lupa segalanya
termasuk seorang suami. Riki adalah satu-satunya pria yang mau menerimaku apa
adanya. Dan kejadian pembunuhan satu jari manis ini semakin membuatku geram.
Kenapa. Kenapa? Hatiku sakit dan terus memunculkan pertanyaan yang
berulang-ulang. Air mataku mengalir, dadaku terasa sesak mendapati ini semua.
Tiba-tiba
hanphone-ku berdering....
“Halo?”
tanyaku singkat.
“Halo, apa
benar ini Ibu Sela?”
“Iya, ada
apa ya pak? Tanyaku
“Apa benar
ibu akan menikah pada 21 April 2015? Berhubungan ada berbagai kejadian yang
meresahkan akhir-akhir ini kami dari pihak kepolisian akan mengawal ibu? Kalau
ibu tetap mau melanjutkan pernikahan ibu. Jadi ibu tidak usah khawatir.”
“Iya, terimakasih.”
Jawabku lemas.
Hanphone-ku
berdering. Ada SMS. Sayang, ayo kita
bertemu untuk membicarakan masalah pernikahan kita?
***
“Buat apa
kita bertemu? Kamu mau bilang kita tidak melanjutkan pernikahan kita kan? Aku
tidak setuju. Toh kalau kejadian itu terjadi pada kita, aku yang bakal mati dan
kehilangan jari manisku. Buat apa kamu khawatir semua ini akan terjadi? Buat
apa?” Air mataku mengalir tak bisa kubendung. Dadaku sesak, tangisku semakin
menjadi-jadi.
“Siapa
bilang, kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini. Walau apapun yang akan
terjadi.” Dia pegang tanganku, diusapnya air mataku, dan dia kecup keningku.
Hal ini membuatku jauh lebih tenang.
***
H-4
Aku
membuka mata dan membuang selimutku yang masih menempel ditubuhku. Aku
melangkah lunglai membuka kamar mandi. Langkahku berhenti mendadak. Mataku
melotot melihat tulisan berdarah yang tertulis di kaca kamar mandi. Hentikan pernikahanmu, sekarang!
Tiba-tiba
aliran darahku serasa berhenti, bayangan tulisan itu pun mulai terbelah menjadi
beberapa bagian. Mataku menciut dan menutup secara perlahan. Dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
***
H-3
Kejadian
kemarin benar-benar tidak bisa aku lupakan. Tulisan merah itu tetap saja
terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidak tahu apakah harus melanjutkan
pernikahan ini atau tidak. Ku angkat tubuhku meninggalkan tempat tidur dan
bergegas untuk merapikan diri untuk bertemu dengan Riki. Hari ini dia janji akan
mengajakku jalan-jalan walau hanya sekedar makan atau pergi ke pantai untuk
menghilangkan guncangan-guncangan batin yang aku rasakan. Tit.. tit.. titt..
Suara klakson mobil Riki pun sudah terdengar, akupun mempercepat langkahku
untuk menuju mobil Riki.
“Sudah
siap?” Tanyanya ringan.
Aku hanya
mengangguk pertanda aku sudah siap. Dia memegang tanganku. Aku menatapnya dan
dia pun juga menatapku.
“Bagaimana?
Kita tetap melanjutkan pernikahan kita kan?” Pertanyaan itu keluar dari bibir
tipisnya.
“Tidak
usah kita lanjutkan saja pernikahan kita, terlalu banyak hambatan. Mungkin kita
memang tidak jodoh Riki.” Tiba-tiba mobil berhenti, matanya melotot, dan
genggaman tangannya semakin erat. Diringkunhnya tubuhku yang lemas dalam
dekapan yang hangat, yang tidak bisa aku lepas walaupun hanya untuk bernafas.
Begitu hangat. “Jangan takut, aku disini, kita hadapi semuanya bersama”. Aku
tenggelam dalam pelukannya, kehangatannya serta kelembutannya. Darrr.. basah kulihat darah ditanganku.
“Ada apa
ini? Kamu kenapa Rikki? Kamu kenapa?” ternyata ada batu yang dihatamkan tepat
dipunggung Rikki.
“Aku tidak
apa-apa, ini hanya luka biasa. Apapun yang terjadi kita akan tetap menikah,
percayalah padaku. Kamu harus berjanji Sela.” Jawabnya lemas serasa menahan
rasa sakit.
***
H-2
Kejadian dua
hari berturut-turut membuatku semakin takut. Sementara Riki kini ada di rumah
sakit tidak ada yang ingin aku temui di luar sana. Meskipun ada beberapa
petugas yang menjagaku. Semua itu membuatku risih, aku memutuskan untuk tidak
memakai jasa mereka lagi. Aku hanya ingin tenang dengan duniaku. Pekerjaanku
pun aku tinggal beberapa hari, aku memang mengambil cuti untuk mempersiapkan
pernikahan ini. Tapi cuti yang impikan untuk mempersiapkan pernikahan malah
dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang membuatku takut. Kuhabiskan hari ini
dirumah dan akan ke rumah sakit nanti untuk menjenguk Riki, akibat kejadian
kemarin. Aku keluar kamar sama seperti dua hari sebelumnya dengan lunglai aku
duduk di ruang makan. Tidak ada selera makan sama sekali di sana. Aku terdiam.
Semua keluargaku terdiam. Aku tidak tahu lagi. Hanya Rino adikkulah yang makan
dengan lahap.
“Mama
makanannya enak.” Katanya dengan semangat. “Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..” Rino batuk-batuk
tanpa sebab.
“Ada apa?” Mama bingung melihat kejadian
seperti ini dan bergegas mengambil air minum untuk Rino. Tapi Rino tiba-tiba pingsan dan mengeluarkan busa dari
mulutnya. Kami segera membawa Rino ke kamar dan memanggil dokter. Kata dokter
dia keracunan. Aku tidak tahu racun dari mana ini. Padahal kita sekeluarga
sama-sama makan dimeja yang sama dan menu yang sama. Tetapi kenapa hanya Rino
yang keracunan?
***
H-1
Ada apa
sebenarnya, padahal aku sudah berusah beada di rumah agar tidak ada kejadian
buruk menimpaku. Tetapi malah musibah menimpa adikku kemarin. Dan hari ini
adalah puncaknya. Besok adalah hari pernikahanku. Aku tidak tahu apa yang akan
terjadi hari ini. Besok adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para
pasangan pengantin baru, tetapi hal itu tidak terjadi padaku. Besok adalah hari
untuk menunggu kematianku. Apakah besok ajal akan benar-benar menjemputku? Aku
tidak tahu. Yang pasti akan aku jalani hari terakhir ini. Besok. Iya besok.
Kusisir
rambut panjangku, dan memandangi wajahku di cermin. Apa salahku? Apakah wajahku
adalah wajah pendosa, yang harus menanggung karma berupa kutukan tidak gagal
menikah? Atau aku memang tidak mempunyai jodoh dalam hidupku?
Pertanyaan-pertanyaan tidak jelas mulai bermunculan dalam benakku. Aku bingung
harus berbicara apa. Apakah aku menyerah dengan membatalkan pernikahan besok.
Agar aku lebih tersiksa, tapi aku selamat. Atau biarkan saja aku mati tapi aku
bahagia tetap mempertahankan pernikahan ini? Lamunanku terus berlanjut.
Pertanyaanku bermunculan dan jawaban akan pertanyaanku juga bermunculan. Semua
berputar-putar dalam otakku.
Pagi,
siang, sore tidak ada yang terjadi. Aku, keluargaku, dan juga Riki baik-baik
saja hari ini. Apakah mungkin aku akan tidur nyenyak dan besok aku akan
menikah. Duduk berdua dengan Riki serta bertukar cicin. Aku menunggu, tidak ada
yang terjadi. Aku sangat bersyukur, hal yang aku khawatirkan tidak akan
terjadi. Syukurlah.
Dengan
hati tenang kulangkahkan kakiku menapaki kamarku. Saat aku merapikan tempat
tidur, aku melihat sekelebat bayangan muncul dari bilik jendela. Apa itu tadi,
apakah itu si pemburu jari manis? Ketenanganku mendadak buyar. Aku mencoba
menyalakan lampu, tapi tidak bisa. Aku berlari berusaha keluar dari kamar, tapi
pintunya terkunci. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu harus kemana. Dan
bayangan hitam itu mulai mendekatiku, mendekatiku dan tepat berada di depanku.
Aku melihat wajah itu, wajah penjahat yang membunuh 7 calon pengantin baru dan
mengambil jari manisnya. Wajah yang tidak asing bagiku. Mataku terbelalak tidak
percaya. Wajah itu, matanya melotot tandaa ancaman. Aku membuka mulut dan
berkata “Kamukan?”
***
Terjadi lagi wanita berusia 31 tahun yang bernama Sela
Apriliani ditemukan tewas dalam keadaan tanpa jari manis ditangannya. Waktu
pembunuhannya sama seperti ketujuh wanita sebelumnya yaitu H-1 hari pernikahannya.
Teka-teki pembunuhan ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut oleh kepolisian.
Pihak kepolisisan sudah kehabisan cara untuk mengungkap siapa sebenarnya dalang
di balik pembunuhan ini. Pemburuan jari manis calon pengantin. Matamatanews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar