Selasa, 19 April 2016



3 JURUS JITU MENGHADAPI HUT 
INDONESIA KE 10

Setiap kali memperingati hari  bersejarah Indonesia. Tentunya kita juga harus dapat mengintropeksi diri hal-hal yang telah lalu dan sekaligus juga memperbaiki untuk masa depan. Peringatan hari bersejarah tidak pernah lepas dari tanggal 28 oktober, yang biasa kita peringati sebagai hari sumpah pemuda. Kata “pemuda” dalam isi dari sumpah pemuda berulang kali diucapkan, seolah menekankan bahwa pemudalah yang harus bergerak, bernasionalisme, dan mengisi kekosongan kemeerdekaan Indonesia. Kata “pemuda” saat ini sering kita dengar pada “generasi emas 2045”. Hal ini menonjolkan peran pemuda untuk membangun Indonesia.
Untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia tidaklah mudah. Apabila kita salah mendidik maka Indonesia tidak akan bertambah baik, namun malah bertambah buruk. Untuk mengahadapinya dapat melihat kembali sumpah pemuda yang berbunyi :
(1) Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kita sebagai generasi penerus Indonesia harus melihat kembali ke masa lalu, para pahlawan mempertaruhkan nyawa (darah) hanya untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan melihat perjuangan Indonesia kita sebagai generasi penerus pastinya akan lebih menghargai perjuangan mereka (para pahlawan).
(2) Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Hal ini menunjukkan agar kita sebagai wagra negara Indonesia, walaupun terbagi menjadi bermacam-macam bangsa,  kiata harus tetap bersatu dan tidak mudah diadu domba oleh bangsa lain.
 (3) Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bunyi ikrar sumpah pemuda yang ketiga ini memiliki makna, kita sebagai pemersatu Indonesia, sebagai petokan bahwa kita memiliki bahasa yang satu yakni bahasa Indonesia. Alangkah lebih baiknya apabila menggunakan bahasa Indonesia untuk mendidik anak-anak. Mulai dari hal yang terkecil misalnya menggunakan bahasa Indonesia untuk dubbing kartun anak. Walaupun terlihat sepele namun juga mempengaruhi gaya bahasa anak-anak. Misalnya kartun yang kita import dari bangsa Melayu, lebih baik menggunakan bahasa Indonesia. Karena dengan pengucapan bahasa Melayu, akan mempengaruhi gaya bahasa anak-anak.
Ketiga hal ini sudah lebih dari cukup mengantarkan Indonesia untuk menyambut kemerdekaannya yang ke 100 tahun. Tidak perlu banyak usulan untuk mewujudkan Indonesia lebih baik, cukup melihat dari hal-hal yang sederhana namun dapat dilaksanakan dengan baik oleh pemuda Indonesia.  

Karya: Farida Nuraini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar