Jumat, 29 April 2016



TAKSONOMI BLOOM, DEMENSI BELAJAR MARZANO


A.    TAKSONOMI BLOOM
Dalam Rahayu (2012), pada tahun 1956 Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu :
1.      Pengetahuan (knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta- fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.
2.      Pemahaman (comprehension)
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala implikasinya.
3.      Aplikasi (apply)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram
4.      Analisis (analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.



5.      Sintesis (synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
6.      Evaluasi (evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis,

B.       TAKSONOMI BLOOM REVISI
Menurut Anderson dan Krathwohl (2001: 66-88) dimensi proses kognitif terdiri atas beberapa tingkat yaitu:
1.      Remember (Mengingat)
Mengingat adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang. Kategori  Remember terdiri dari proses kognitif Recognizing (mengenal kembali) dan Recalling (mengingat
2.      Understand (Memahami)
Memahami adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik.
3.      Apply (Menerapkan)
Menerapkan adalah kemampuan menggunakan prosedur untuk menyelesaikan masalah. Siswa memerlukan latihan soal sehingga siswa terlatih untuk mengetahui prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal.  
4.      Analyze (Menganalisis)
Menganalisis meliputi kemampuan untuk memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan satu dengan yang lain atau bagian tersebut dengan keseluruhannya.
5.      Evaluate (Menilai)
Menilai didefinisikan sebagai kemampuan melakukan judgement berdasar pada kriteria dan standar tertentu.
6.      Create (Menciptakan)
Create didefinisikan sebagai menggeneralisasi ide baru, produk atau cara pandang yang baru dari sesuatu kejadian. Create di sini diartikan sebagai meletakkan beberapa elemen dalam satu kesatuan yang menyeluruh sehingga terbentuklah dalam satu bentuk yang koheren atau fungsional.
    Perbandingan taksonomi Bloom dan Anderson:
Taksonomi Bloom
Perbaikan Taksonomi Bloom
Pengetahuan
Mengingat
Pemahaman
Memahami
Penerapan
Menerapkan
Analisis
Menganalisis
Sintesis
Menilai
Penilaian
Menciptakan

Penjabaran perbaikan taksonomi Bloom oleh Anderson:
·         Mengingat: Menjelaskan jawaban faktual, menguji ingatan, pengenalan
·         Memahami: Menerjemahkan, menjabarkan, menafsirkan, menyederhanakan, dan membuat perhitungan
·         Menerapkan : Memahami kapan menerapkan, mengapa menerapkan, dan mengenali pola penerapan ke dalam situasi baru, tidak biasa dan agak berbeda atau berlainan.
·         Menganalisis :Memecahkan ke dalam bagian, bentuk dan pola
·         Menilai: Berdasarkan kriteria dan menyatakan mengapa ?
·         Menciptakan : Menggabungkan unsur-unsur ke dalam bentuk atau pola  yang sebelumnya kurang jelas
Menurut Anderson dan Krathwohl istilah yang digunakan di dalamtaksonomi Bloom tidak menggambarkan penerapan hasil belajar. Maka ia mengusulkan untuk menggunakan terminologi berbentuk  gerund yaitu remember (ingatan), understand (pemahaman), apply (penerapan), analysis (analisis), evaluation (penilaian) dan creation (penciptaan) dan seterusnya. Terminologi ini  lebih menggambarkan kompetensi secara spesifik. Selain itu urutan taksonomi menggambarkan proses berfikir dari tingkat rendah (low order thinking) ke proses berfikir tingkat tinggi (high order thinking). Dari mulai mengingat sampai dengan menciptakan.
Menurut Thohir (2009) dalam Ridwan (2014), Anderson dan Krathwohl mengakui bahwa hasil revisinya ini lebih melihat fungsi otak dalam satu kesatuan ranah (domain). Tidak seperti sebelumnya yang menggunakan klasifikasi dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Pembagian tersebut dikritisi banyak pihak karena cenderung membuat pendidikan beranggapan bahwa adanya isolasi aspek-aspek dalam sebuah tujuan yang sama. Pada revisi taksonomi Bloom kali ini, ranah kognitif tidak dianggap terpisah dengan ranah afektif atau psikomotor, melainkan terkait antara satu dengan yang lain. Karena semua aspek tersebut merupakan satu bagian utuh dari fungsi kerja otak. Sebagai contoh, pada kategori pengetahuan metakognitif, di dalamnya juga mencakup ranah kognitif dan afektif, juga psikomotor.

C.    DIMENSI BELAJAR MARZANO
Menurut Rahayu (2012), model Dimensi Belajar merupakan metafora tentang bagaimana otak bekerja selama orang belajar. Dimensi belajar ini terdiri atas lima tipe berpikir yang bersifat interaktif, yaitu sikap dan persepsi positif terhadap belajar, pemerolehan dan pengitegrasian pengetahuan, perluasan dan penghalusan pengetahuan, penggunaan pengetahuan secara bermakna, dan kebiasaan berpikir produktif. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan model Dimensi Belajar adalah pembelajaran yang menggunakan dimensi- dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik
1.      Mengembangkan Sikap dan Persepsi Positif
Mudah untuk dipahami bahwa sikap dan persepsi si belajar sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dapat mempengaruhi belajar secara positif, sehingga belajar menjadi mudah, sebaliknya sikap juga dapat membuat belajar menjadi sangat sulit.
2.      Belajar untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan
Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan.
3.      Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan
Pada dimensi ini aspek-aspek belajar melibatkan pengujian apa yang diketahui
agar mencapai tingkat yang lebih dalam dan analitis.
4.      Belajar Menggunakan Pengetahuan secara Bermakna
Pada umumnya kita belajar dengan baik jika pengetahuan yang kita pelajari itu diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Keberadaan tujuan umum akan dicapai dengan cara-cara umum di mana kita menggunakan pengetahuan itu secara bermakna.
5.      Mengembangkan Kebiasaan Berpikir Produktif
Dimensi ini menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara
produktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar