TAKSONOMI BLOOM, DEMENSI BELAJAR MARZANO
A. TAKSONOMI BLOOM
Dalam Rahayu (2012), pada tahun 1956 Bloom mengklasifikan tujuan kognitif
dalam enam level, yaitu :
1. Pengetahuan (knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi,
fakta- fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai
contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level
ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk
yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.
2. Pemahaman (comprehension)
Tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan
penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan
mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah
yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide-ide lain dengan segala
implikasinya.
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur,
metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi
informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada
di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya
kualitas dalam bentuk fish bone diagram
4. Analisis (analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk
dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil
untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor
penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini
seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject,
membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan
setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
5. Sintesis (synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu
menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak
terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk
menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang
manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di
produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas
produk.
6. Evaluasi (evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi,
gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg
ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di
tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg
sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai
ekonomis,
B. TAKSONOMI BLOOM REVISI
Menurut Anderson dan Krathwohl (2001: 66-88) dimensi proses kognitif
terdiri atas beberapa tingkat yaitu:
1. Remember (Mengingat)
Mengingat adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang relevan dari
memori jangka panjang. Kategori Remember
terdiri dari proses kognitif Recognizing (mengenal kembali) dan Recalling (mengingat
2. Understand (Memahami)
Memahami adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan
mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik.
3. Apply (Menerapkan)
Menerapkan adalah kemampuan menggunakan prosedur untuk menyelesaikan masalah.
Siswa memerlukan latihan soal sehingga siswa terlatih untuk mengetahui prosedur
apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal.
4. Analyze (Menganalisis)
Menganalisis meliputi kemampuan untuk memecah suatu kesatuan menjadi
bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan satu
dengan yang lain atau bagian tersebut dengan keseluruhannya.
5. Evaluate (Menilai)
Menilai didefinisikan sebagai kemampuan melakukan judgement berdasar pada
kriteria dan standar tertentu.
6. Create (Menciptakan)
Create didefinisikan sebagai menggeneralisasi ide baru, produk atau cara pandang
yang baru dari sesuatu kejadian. Create di sini diartikan sebagai meletakkan
beberapa elemen dalam satu kesatuan yang menyeluruh sehingga terbentuklah dalam
satu bentuk yang koheren atau fungsional.
Perbandingan
taksonomi Bloom dan Anderson:
Taksonomi Bloom
|
Perbaikan
Taksonomi Bloom
|
Pengetahuan
|
Mengingat
|
Pemahaman
|
Memahami
|
Penerapan
|
Menerapkan
|
Analisis
|
Menganalisis
|
Sintesis
|
Menilai
|
Penilaian
|
Menciptakan
|
Penjabaran
perbaikan taksonomi Bloom oleh Anderson:
·
Mengingat: Menjelaskan jawaban
faktual, menguji ingatan, pengenalan
·
Memahami: Menerjemahkan,
menjabarkan, menafsirkan, menyederhanakan, dan membuat perhitungan
·
Menerapkan : Memahami kapan
menerapkan, mengapa menerapkan, dan mengenali pola penerapan ke dalam situasi
baru, tidak biasa dan agak berbeda atau berlainan.
·
Menganalisis :Memecahkan ke dalam
bagian, bentuk dan pola
·
Menilai: Berdasarkan kriteria dan
menyatakan mengapa ?
·
Menciptakan : Menggabungkan
unsur-unsur ke dalam bentuk atau pola
yang sebelumnya kurang jelas
Menurut Anderson dan Krathwohl istilah yang
digunakan di dalamtaksonomi Bloom tidak menggambarkan penerapan hasil belajar.
Maka ia mengusulkan untuk menggunakan terminologi berbentuk gerund
yaitu remember (ingatan), understand (pemahaman), apply
(penerapan), analysis (analisis), evaluation (penilaian) dan creation
(penciptaan) dan seterusnya. Terminologi ini lebih menggambarkan
kompetensi secara spesifik. Selain itu urutan taksonomi menggambarkan proses
berfikir dari tingkat rendah (low order thinking) ke proses berfikir
tingkat tinggi (high order thinking). Dari mulai mengingat sampai dengan
menciptakan.
Menurut Thohir (2009) dalam Ridwan (2014),
Anderson dan Krathwohl mengakui bahwa hasil revisinya ini lebih melihat fungsi
otak dalam satu kesatuan ranah (domain). Tidak seperti sebelumnya yang
menggunakan klasifikasi dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Pembagian tersebut dikritisi banyak pihak karena cenderung membuat
pendidikan beranggapan bahwa adanya isolasi aspek-aspek dalam sebuah tujuan
yang sama. Pada revisi taksonomi Bloom kali ini, ranah kognitif tidak dianggap
terpisah dengan ranah afektif atau psikomotor, melainkan terkait antara satu
dengan yang lain. Karena semua aspek tersebut merupakan satu bagian utuh dari
fungsi kerja otak. Sebagai contoh, pada kategori pengetahuan metakognitif, di
dalamnya juga mencakup ranah kognitif dan afektif, juga psikomotor.
C. DIMENSI BELAJAR MARZANO
Menurut Rahayu (2012), model Dimensi Belajar merupakan metafora tentang
bagaimana otak bekerja selama orang belajar. Dimensi belajar ini terdiri atas
lima tipe berpikir yang bersifat interaktif, yaitu sikap dan persepsi positif
terhadap belajar, pemerolehan dan pengitegrasian pengetahuan, perluasan dan
penghalusan pengetahuan, penggunaan pengetahuan secara bermakna, dan kebiasaan
berpikir produktif. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan model Dimensi
Belajar adalah pembelajaran yang menggunakan dimensi- dimensi belajar itu
sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu,
niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik
1. Mengembangkan Sikap dan Persepsi Positif
Mudah untuk dipahami bahwa sikap dan persepsi si belajar sangat mempengaruhi
proses belajar. Sikap dapat mempengaruhi belajar secara positif, sehingga
belajar menjadi mudah, sebaliknya sikap juga dapat membuat belajar menjadi
sangat sulit.
2. Belajar untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan
Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang
tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh
dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan
melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang
ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi
langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan.
3. Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan
Pada dimensi ini aspek-aspek belajar melibatkan pengujian apa yang
diketahui
agar mencapai tingkat yang lebih dalam dan analitis.
4. Belajar Menggunakan Pengetahuan secara Bermakna
Pada umumnya kita belajar dengan baik jika pengetahuan yang kita pelajari
itu diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Keberadaan tujuan umum akan dicapai
dengan cara-cara umum di mana kita menggunakan pengetahuan itu secara bermakna.
5. Mengembangkan Kebiasaan Berpikir Produktif
Dimensi ini menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara
produktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar